Pages

Sunday, April 1, 2012

Dongeng Lembu Jantan dan Seekor Singa




"Bahaya!" Kata seekor lembu pada tiga lembu lainnya. "Apakah kalian mendengar suara singa?" Keempat lembu yang sedang merumput di padang hijau dan luas mengangkat kepala.  "Ya, aku mendengarnya. Sepertinya singa itu sendirian." Sahut lembuberkulit putih totol coklat. "Kalau dia menyerang kita, kita harus
Berusaha melawannya." "Baiklah, jangan berpencar. Kita musti saling melindungi, kawan-kawan!" Ketiga lembu lain mengangguk. Lalu mereka melanjutkan makan rumput dalam jarak berdekatan dan tetap waspada. Benar sekali, seekor singa sedang mengendap menuju lembu-lembu itu. "Auhmmm... lapar sekali," Singa itu mengaum dari balik rumput-rumput yang tinggi, "Lembu-lembu yang gemuk. Auhmm...!"
Tak lama kemudian singa itu sudah sangat dekat dengan para lembu. "Cepat! Merapat kawan-kawan" Lembu gemuk berkulit coklat belang putih memberi isyarat. Lembu lainnya segera merapat saling membelakangi. Ekor mereka saling mendekati. "Auhmm!" Singa itu siap menerkam ke arah lembu yang paling gemuk. Tapi lembu itu sudah siap mengibas-ibaskan tanduknya. Singa yang kelaparan itu mencoba menerkam. Tapi luput. Malah perutnya hampir terluka terkena tanduk lembu yang kuat dan tajam.
"Aaaghh! Sakit sekali." Singa meringis, meski tidak luka oleh tanduk, namun perutnya terasa sakit sekali. Lalu ia berlari mengitari keempat lembu. Lembu-lembu merapatkan posisi mereka, saling melindungi satu sama lain. Mereka seperti membuat benteng yang kuat. Dari arah manapun sang singa akan menerkam, tanduk-tanduk lembu menghadangnya. Singa itu sangat kelaparan. Sudah beberapa hari hanya makan hewan-hewan kecil seperti kelinci saja. "Lembu-lembu ini akan lengah atau kecapaian," Katanya dalam hati. Dugaan singa itu salah. Setiap kali ia menyerang, para lembu sudah sangat siaga. Sampai sore hari, singa itu belum berhasil menerkam mangsanya. Malah, perut dan pipi singa itu robek berdarah. "Uphs, kalau begini aku bisa mati. Nggak lucu. Masa' singa mati oleh tanduk mangsanya." Singa akhirnya kelelahan. Akhirnya ia mundur menjauh dan pulang ke sarangnya.
Keesokan harinya, singa itu kembali mencoba menerkam salah satu lembu. "Kawan-kawan, dia datang lagi! Berkumpuuul!" Seekor lembu berteriak. "Auuhmmm! Hari ini aku pasti berhasil." Sang singa melompat sepenuh tenaga.
Para lembu tetap saling melindungi seperti hari sebelumnya. Ditambah rasa percaya diri yang besar, karena sebelumnya mereka berhasil mengusir singa itu. "Rasakan tajamnya, tandukku!" kata lembu coklat belang putih. Singa dengan sigap berhasil menghindar kibasan tanduk itu. Ia berputar ke arah kanan. Lalu menyerang salah satu lembu yang dia kira lengah. "Pergi Kamu!" Kata lembu paling kurus. Dan, Crasssh! Tanduk sang lembu kurus berhasil mengiris tepian leher singa. Singa melolong kesakitan, lalu pergi mengobati lukanya. Kejadian seperti itu terjadi berkali-kali. Hari demi hari, singa tak dapat menerkam satu pun dari keempat lembu. Singa kelaparan, ia hanya makan kelinci, tupai tanah, burung-burung dan hewan kecil lainnya. Demikianlah hingga beberapa minggu, beberapa bulan. Akhirnya singa itu kurus dan semakin merasa putus asa. Tenaganya pun semakin melemah karena kekurangan makanan.
Para lembu pun merasa yakin bahwa singa itu sudah tidak berani lagi mengincar mereka. "Sekali lagi ia menyerang kita, ia akan terluka parah dengan tandukku!" Kata salah satu dari mereka. "Aku rasa juga begitu," Lembu lain menimpali. "Jangankan melawan kita secara serentak, melawan aku sendiri saja ia pasti akan kelelahan." "Itu benar! Lihatlah caranya berjalan. Sudah tidak bertenaga. Tidak menyeramkan sama sekali." "Kawan-kawan, menurutku kita tetap harus waspada dan bersatu melawannya." "Aaah... dasar penakut!" "Sudahlah, jangan gusar. Dia tidak akan berani lagi!" "Iya! Tidak perlu terlalu khawatir. Mari kita merumput lagi." Keempat lembu kemudian dapat menikmati rumput-rumput segar dengan tenang tanpa merasa terancam. "Mmm, menyenangkan. Kawan-kawan, sepertinya rumput-rumput muda sedang tumbuh di dekat danau. Kita ke sana!" Lembu putih totol coklat mengajak teman-temannya. "Malas, ah. Rumput di sini, juga segar." Jawab lembu gemuk coklat belang putih, "Kamu saja ke sana saja sendiri, kalau mau." "Aku akan ke pucuk bukit. Rumput muda di sana lebih enak." Lembu kulit kuning akhirnya bicara sambil bergerak menuju ke atas gundukan bukit.
Akhirnya mereka berpisah. Lembu kurus mencari tempat yang paling aman baginya, sebuah padang kecil yang terlindung oleh tebing-tebing batu. Dari kejauhan, singa melihat peristiwa itu. "Ahha! Sekarang saatnya. Mereka berpisah dan tidak bisa saling melindungi."
Singa dengan cepat berlari menuju ke lembu yang sendirian. Meski lembu berusaha melawan mati-matian, tapi singa terlalu kuat untuk dihadapisendiri. Tak lama kemudian lembu itu mati dan menjadi santapan singa.
Akhirnya, satu demi satu lembu mati diterkam singa. Karena keempat lembu lupa dengan semboyan pernah mereka ucapkan, "Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh".

(Sumber: BSE Bahasa Indonesia Kelas VII SMP)

cerita sang janda dan Ketela Pohon


SI JANDA DAN KETELA POHON
(Oleh: Suhita Whini S.)
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang  janda di sebuah desa terpencil. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap hari ia menjual dedaunan dan rempah-rempah hasil ladang miliknya yang tak seberapa  luas. Suatu hari terjadi serangan babi   hutan. Seluruh ladang petani di desa itu
hancur karena serangan binatang buas itu, termasuk ladang si Janda. Si janda sangat sedih karenanya. Ladang itu adalah satu-satunya sumber penghidupannya. Kini ladang itu telah rusak dan ia tidak tahu  harus berbuat apa. Dalam keputusasaannya, ia berjalan menyusuri hutan seorang diri. Ia berharap dapat menemukan sesuatu yang bisa dijual ke pasar. Tak lama kemudian sampailah ia pada sebuah pohon aneh yang rindang dan besar. Buahnya panjang dan berwarna cokelat tua. Si Janda tak pernah tahu tentang keberadaan pohon tersebut sebelumnya. Ia lalu duduk di bawah pohon itu untuk melepas lelah. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, "Hai anak manusia, mengapa kau duduk di situ? Tidakkah kau harus bekerja mengurus keluargamu?" Si Janda sangat terkejut, lalu mencari asal suara itu. Mengetahui asal suara yang  menggelegar itu dari pohon yang berdiri kokoh di depannya, tubuh si Janda gemetar. Lidahnya kelu. "Jangan takut, aku tak bermaksud jahat padamu. Ayolah, jawab pertanyaanku," balas suara tadi. Setelah mengumpulkan segala keberaniannya, akhirnya si Janda menceritakan kejadian yang menimpanya serta tujuannya datang ke hutan itu. "Kasihan sekali kau. Kalau begitu, izinkan aku membantumu, terimalah pemberianku ini." Pohon itu lalu menjatuhkan beberapa buahnya. Akan tetapi, si Janda bingung bagaimana cara memakannya. Sebab, baru kali ini dia melihat buah aneh itu. "Jangan bingung, rebus saja buahku, kau sudah dapat menikmatinya," terdengar sang pohon menjelaskan. "Terima kasih, wahai pohon yang baik.Aku sangat tertolong sekarang. Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu ini?" "Tak apa-apa, kau tak perlu membalasnya. Aku hanya ingin membantu. Oh ... aku lupa memperkenalkan, namaku Ketela Pohon.". "Sekali lagi terima kasih, Ketela Pohon." Begitulah seterusnya, hidup si Janda kini ditopang sepenuhnya oleh Ketela Pohon. Buah pemberian Ketela Pohon sebagian dimakan dan sisanya dijual ke pasar. Orang-orang sangat menyukai buah yang dijual oleh si Janda, walaupun awalnya mereka merasa asing. Pada suatu hari, tak seperti biasanya si Janda tidak pergi ke hutan untuk mengambil buah Ketela Pohon. Hari itu ia masih mempunyai persediaan untuk dimakan sekaligus untuk dijual. Keesokan harinya saat berjualan di pasar, ia mendengar kabar bahwa kemarin pasukan kerajaan membabat habis hutan di daerahnya. Si Janda sangat terkejut. Ia lalu lari tunggang langgang menuju ke hutan. Ia ingin membuktikan kebenaran berita itu. Jika memang benar, sungguh ia tidak ingin kehilangan dewa penolongnya yang sudah banyak membantunya saat mengalami kesulitan hidup. Sesampai di dalam hutan, tubuh si Janda lemas. Tak ada sebatang pohon pun yang masih berdiri tegak, semuanya roboh. Hanya tonggak-tonggak kayu yang tersisa. Mata Si Janda nanar melihat pemandangan yang terpampang persis di depannya. Tanpa ba bi bu lagi, segera dia mencari batang ketela pohon. Akhirnya, ia menemukan Ketela Pohon yang sudah tergeletak tak berdaya.Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena kemarin tidak pergi ke hutan. Andai saja ia kemarin datang, ia bisa melihat Ketela Pohon untuk yang terakhir kalinya dan mengucapkan salam perpisahan. Tapi nasi telah menjadi bubur. Si Janda hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Dalam tangisnya yang panjang, ia memohon kepada Tuhan agar dipertemukan kembali dengan Ketela Pohon. "Jangan menangis, Kawan. Kau dapat memotong tubuhku menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, lalu tanamlah. Suatu saat nanti kau akan kembali bersua denganku," kata Ketela Pohon. Si Janda terperanjat namun gembira. Tak disangkanya Ketela Pohon sahabatnya itu masih bisa bersuara. Segera ia mengambil tubuh Ketela Pohon yang telah terpotong-potong lalu membawanya pulang ke rumah. Sesampai di rumah segera ia tanam batang-batang pohon itu sesuai dengan petunjuk Ketela Pohon.
Waktu berlalu. Batang-batang itu kini telah tumbuh bersemi. Potongan atang yang ditancapkan si Janda di ladangnya kini tumbuh menjadi satu pohon yang utuh. Saat si Janda tengah asyik menyiangi tanamannya, terdengar suara Ketela Pohon, "Terima kasih, hai Janda yang baik hati! Semua ini berkat kemuliaan hatimu. Tuhan telah mengabulkan doamu." "Tak apa, Kawan! Aku harus membalas budi baikmu. Kau telah banyak membantuku." "Oh ya, kini kau bisa mengambil buahku kembali. Tetapi, kini buahku berada di dalam tanah, batangku juga tak bisa tinggi menjulang seperti dulu lagi." "Mengapa begitu?" tanya si Janda. "Itu semua karena kehendak Tuhan. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja.Kini, kau tak perlu takut kehilangan diriku lagi karena kau dapat memperbanyak diriku. Caranya sama dengan yang kau lakukan kemarin terhadapku." Si Janda mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu tersenyum bahagia. Kini Ketela Pohon dapat kembali lagi ke sisinya, walaupun dengan wujud yang sedikit berbeda. Begitulah, waktu terus bergulir. Ketela Pohon tetap hidup hingga kini. Karena buahnya berada di dalam tanah, orang-orang menyebutnya dengan sebutan umbi. Mereka juga meniru cara si Janda memperbanyak tanaman itu yang kemudian lebih dikenal dengan nama setek. Itulah asal-usul ketela pohon yang kita kenal sekarang ini.

(Sumber: BSE Bahasa Indonesia Kelas VII SMP)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...