Pages

Thursday, March 28, 2013

Kisah Empat Pria Botak


Pada suatu ketika ada empat laki-laki botak yang tinggal di desa dekat Phnom Penh. Kemana pun mereka pergi, anak-anak tertawa dan berteriak padanya, "Botak! Botak! " Ini benar bahwa kepala mereka sehalus telur penyu.
Suatu hari, mereka berempat memutuskan untuk pergi ke Phnom Penh untuk menemukan
dukun yang dapat membantu mereka untuk menuumbuhkan rambut mereka.
"Jika Anda akan melakukan persis seperti yang saya memberitahu," kata
dukun, "Rambut Anda akan tumbuh setebal padi di sawah. Tapi Anda hanya boleh mencuci kepala Anda hanya sekali dalam sumur ajaib di belakang rumah saya. "
Keempat pria botak
itu mengikuti nasihatnya. Segera setelah mereka selesai mencuci kepala mereka, mereka bertepuk tangan dengan sukacita. Kepala mereka ditutupi dengan rambut hitam tebal. Semua teman mereka mengatakan bahwa mereka tampak jauh lebih muda.
Setelah beberapa saat, mereka ingin menikah. "Semua orang mengatakan betapa tampan
nya kita sekarang melihat  kita memiliki rambut. Jika kita mencuci kepala kita sekali lagi, mungkin kita akan menjadi lebih tampan. Ini kemudian akan sangat mudah bagi kita untuk menemukan istri. "
Mereka semua bergegas kembali ke
sumur ajaib untuk mencuci kepala mereka sekali lagi. Kali ini, mereka membasuh semua rambut mereka yang telah tumbuh, dan kepala mereka menjadi botak lagi.
"Aiyah!" Teriak mereka.
 Apa yang telah terjadi! Mungkin kami terlalu serakah. Kita harus mematuhi instruksi dukun. Mungkin, jika kita memintanya untuk mengampuni kita, ia akan dapat membantu kita menumbuhkan rambut lagi. "
Mereka pergi untuk
menemui dukun, diikuti oleh kerumunan anak-anak tertawa dan menunjuk kepala mereka yang botak mulus.
"
Tuan Dukun O!" Teriak mereka. "Kami akan taat kepada Anda tapi sekarang kita botak dan jelek lagi! Tolong bantu kami untuk menumbuhkan kembali rambut di kepala kami "
"Aku
tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membantu Anda," kata dukun. "Kepala botak Anda akan selalu mengingatkan Anda tentang keserakahan dan ketidaktaatan kalian"
Mereka kembali ke desa mereka jauh lebih menyedihkan kemudian ketika mereka telah meninggalkan.


Kisah Dua saudara dermawan



Pada suatu waktu, ada dua bersaudara yang bekerja sebagai petani padi. Mereka berdua sangat baik satu sama lain.
Satu ketika, sang kakak memiliki beberapa beras untuk cadangan. Dia berpikir, lebih baik saya berikan beberapa adik saya. Karena dia memiliki keluarga besar untuk diberi makan. "
Malam itu, ia membawa sekarung besar beras ke rumah saudaranya. Dia meninggalkan di luar pintu.
Keesokan harinya, ia pergi ke toko untuk menghitung sisa karung beras. Dia terkejut. Dia masih memiliki karung beras yang sama seperti sebelumnya.
"Bagaimana mungkin?" Tanya dia sendiri. "Sebaiknya aku membawa lagi karung beras malam ini untuk kakakku."
Jadi malam itu, setelah gelap, ia membawa satu karung beras ke rumah saudaranya. Sekali lagi, keesokan harinya, ia menghitung jumlah karung beras tersisa di tokonya. Dia masih memiliki jumlah karung beras yang sama seperti sebelumnya.
"Saya tidak bisa percaya," katanya. "Baiklah, aku akan membawa lagi karung beras untuk kakakku malam ini.
Malam itu, untuk ketiga kalinya, ia pergi ke rumah saudaranya membawa karung beras di punggungnya. Malam itu bulan sangat cerah. Dia melihat seseorang membawa karung beras yang datang ke arahnya. Itu adiknya.
"Kenapa, kau, adik," serunya. Adiknya berhenti dan meletakkan karung beras yang dibawanya.
Tanpa mengatakan lagi, mereka berdua mengerti apa yang telah terjadi. Mereka tertawa untuk brsama-sama.

Sunday, September 9, 2012

Jadilah Pelita

 Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak.
secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...