Pages

Friday, August 31, 2012

Kisah Wanita tua yang selalu cemas


Wanita tua yang selalu cemas

Ada seorang wanita tua bernama Mrs Wong yang tinggal di New Territories. Dia punya dua anak. Putra sulung bekerja di binatu di Kowloon. Anak bungsu menjual payung di sebuah toko di Hong Kong. Setiap kali hujan, dia khawatir anak tertua nya. "Oh! Dia akan kehilangan usahanya jika hujan, "katanya. "Bagaimana dia bisa mengeringkan bajunya?" Ketika tidak ada hujan, dia khawatir anaknya yang lebih muda. "Siapa yang akan membeli payung nya? Bagaimana dia akan mendapatkan uang cukup untuk hidup "tidak masalah apakah cuaca baik atau buruk?., Dia tidak pernah bahagia. Setelah beberapa waktu, dia menjadi sakit. Dia tidak bisa makan atau minum.
Seorang pemuda bernama Ah Foo tinggal di sebelah Ibu Wong. Dia biasnya bermain di depan rumahnya. Suatu pagi, wanita tua itu berkata kepadanya, "Ini adalah hari yang baik, tapi tidak ada hujan. Siapa yang akan membeli payung anakku yang bungsu" Ah Foo menatapnya? Tapi tidak mengatakan apa-apa. Pada sore hari, turun  hujan. Wanita tua menatap langit. Bagaimana anak tertua saya mengeringkan bajunya?" Tanya dia.
"Mrs Wong, " Ah Foo menjawab, " Tolong jangan terlalu khawatir, jika hujan, anak Anda lebih muda akan dapat menjual payung nya. Ketika hujan berhenti, anak sulung Anda akan dapat mengeringkan pakaiannya.
Ibu Wong terdiam selama beberapa saat. Dia kemudian tersenyum.
"Kau benar," katanya. "Ada sisi baik dan buruk untuk segala sesuatu tetapi kita harus selalu melihat sisi terang"

Saturday, May 19, 2012

Kisah keledai dan barang muatannya


Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut. Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai. Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.
Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Sumber : www.ceritakecil.com

Sunday, April 1, 2012

Dongeng Lembu Jantan dan Seekor Singa




"Bahaya!" Kata seekor lembu pada tiga lembu lainnya. "Apakah kalian mendengar suara singa?" Keempat lembu yang sedang merumput di padang hijau dan luas mengangkat kepala.  "Ya, aku mendengarnya. Sepertinya singa itu sendirian." Sahut lembuberkulit putih totol coklat. "Kalau dia menyerang kita, kita harus
Berusaha melawannya." "Baiklah, jangan berpencar. Kita musti saling melindungi, kawan-kawan!" Ketiga lembu lain mengangguk. Lalu mereka melanjutkan makan rumput dalam jarak berdekatan dan tetap waspada. Benar sekali, seekor singa sedang mengendap menuju lembu-lembu itu. "Auhmmm... lapar sekali," Singa itu mengaum dari balik rumput-rumput yang tinggi, "Lembu-lembu yang gemuk. Auhmm...!"
Tak lama kemudian singa itu sudah sangat dekat dengan para lembu. "Cepat! Merapat kawan-kawan" Lembu gemuk berkulit coklat belang putih memberi isyarat. Lembu lainnya segera merapat saling membelakangi. Ekor mereka saling mendekati. "Auhmm!" Singa itu siap menerkam ke arah lembu yang paling gemuk. Tapi lembu itu sudah siap mengibas-ibaskan tanduknya. Singa yang kelaparan itu mencoba menerkam. Tapi luput. Malah perutnya hampir terluka terkena tanduk lembu yang kuat dan tajam.
"Aaaghh! Sakit sekali." Singa meringis, meski tidak luka oleh tanduk, namun perutnya terasa sakit sekali. Lalu ia berlari mengitari keempat lembu. Lembu-lembu merapatkan posisi mereka, saling melindungi satu sama lain. Mereka seperti membuat benteng yang kuat. Dari arah manapun sang singa akan menerkam, tanduk-tanduk lembu menghadangnya. Singa itu sangat kelaparan. Sudah beberapa hari hanya makan hewan-hewan kecil seperti kelinci saja. "Lembu-lembu ini akan lengah atau kecapaian," Katanya dalam hati. Dugaan singa itu salah. Setiap kali ia menyerang, para lembu sudah sangat siaga. Sampai sore hari, singa itu belum berhasil menerkam mangsanya. Malah, perut dan pipi singa itu robek berdarah. "Uphs, kalau begini aku bisa mati. Nggak lucu. Masa' singa mati oleh tanduk mangsanya." Singa akhirnya kelelahan. Akhirnya ia mundur menjauh dan pulang ke sarangnya.
Keesokan harinya, singa itu kembali mencoba menerkam salah satu lembu. "Kawan-kawan, dia datang lagi! Berkumpuuul!" Seekor lembu berteriak. "Auuhmmm! Hari ini aku pasti berhasil." Sang singa melompat sepenuh tenaga.
Para lembu tetap saling melindungi seperti hari sebelumnya. Ditambah rasa percaya diri yang besar, karena sebelumnya mereka berhasil mengusir singa itu. "Rasakan tajamnya, tandukku!" kata lembu coklat belang putih. Singa dengan sigap berhasil menghindar kibasan tanduk itu. Ia berputar ke arah kanan. Lalu menyerang salah satu lembu yang dia kira lengah. "Pergi Kamu!" Kata lembu paling kurus. Dan, Crasssh! Tanduk sang lembu kurus berhasil mengiris tepian leher singa. Singa melolong kesakitan, lalu pergi mengobati lukanya. Kejadian seperti itu terjadi berkali-kali. Hari demi hari, singa tak dapat menerkam satu pun dari keempat lembu. Singa kelaparan, ia hanya makan kelinci, tupai tanah, burung-burung dan hewan kecil lainnya. Demikianlah hingga beberapa minggu, beberapa bulan. Akhirnya singa itu kurus dan semakin merasa putus asa. Tenaganya pun semakin melemah karena kekurangan makanan.
Para lembu pun merasa yakin bahwa singa itu sudah tidak berani lagi mengincar mereka. "Sekali lagi ia menyerang kita, ia akan terluka parah dengan tandukku!" Kata salah satu dari mereka. "Aku rasa juga begitu," Lembu lain menimpali. "Jangankan melawan kita secara serentak, melawan aku sendiri saja ia pasti akan kelelahan." "Itu benar! Lihatlah caranya berjalan. Sudah tidak bertenaga. Tidak menyeramkan sama sekali." "Kawan-kawan, menurutku kita tetap harus waspada dan bersatu melawannya." "Aaah... dasar penakut!" "Sudahlah, jangan gusar. Dia tidak akan berani lagi!" "Iya! Tidak perlu terlalu khawatir. Mari kita merumput lagi." Keempat lembu kemudian dapat menikmati rumput-rumput segar dengan tenang tanpa merasa terancam. "Mmm, menyenangkan. Kawan-kawan, sepertinya rumput-rumput muda sedang tumbuh di dekat danau. Kita ke sana!" Lembu putih totol coklat mengajak teman-temannya. "Malas, ah. Rumput di sini, juga segar." Jawab lembu gemuk coklat belang putih, "Kamu saja ke sana saja sendiri, kalau mau." "Aku akan ke pucuk bukit. Rumput muda di sana lebih enak." Lembu kulit kuning akhirnya bicara sambil bergerak menuju ke atas gundukan bukit.
Akhirnya mereka berpisah. Lembu kurus mencari tempat yang paling aman baginya, sebuah padang kecil yang terlindung oleh tebing-tebing batu. Dari kejauhan, singa melihat peristiwa itu. "Ahha! Sekarang saatnya. Mereka berpisah dan tidak bisa saling melindungi."
Singa dengan cepat berlari menuju ke lembu yang sendirian. Meski lembu berusaha melawan mati-matian, tapi singa terlalu kuat untuk dihadapisendiri. Tak lama kemudian lembu itu mati dan menjadi santapan singa.
Akhirnya, satu demi satu lembu mati diterkam singa. Karena keempat lembu lupa dengan semboyan pernah mereka ucapkan, "Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh".

(Sumber: BSE Bahasa Indonesia Kelas VII SMP)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...