Pages

Sunday, September 9, 2012

Kisah Anak dan Ayahnya

Bekerja butuh kesabaran
Di suatu sore, Seorang Anak datang kepada Ayahnya yang sedang membaca koran.

“Ayah, ayah” kata Sang Anak

“Ada apa?” tanya Sang Ayah

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!

Aku capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.

Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.

Aku capek Ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis.

Kemudian sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak. Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah”  sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah…”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah”
” Nah, akhirnya kau mengerti”

” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.
Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Ayah tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri,, seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Thursday, September 6, 2012

Kisah Nabi Idris dan Malakul Maut

Dikisahkan tentang sebab terangkatnya Nabi Idris a.s. ke syurga. Bahwasanya Nabi Idris a.s. dirindukan oleh Malakul-Maut, karena kagum akan amalnya yang tiap hari tiap malam dinaikkan ke langit sebanyak amal penduduk bumi. Si malaikat mohon idzin dari Allah untuk mengunjunginya. Maka seidzin Allah ia dating mengunjungi Nabi Idris menjelma dalam bentuk manusia dan tinggal bersama sebagai tamu. Nabi Idris yang berpuasa sepanjang masa, bila tiba saat berbuka, datanglah malaikat membawakan

Kisah Buah Tiga Potong Roti



Diriwayatkan  bahwa Nabi Isa as. berkunjung ke suatu desa di mana ada seorang tukang penatu yang diadukan kepada Nabi Isa, karena ia menahan air, meludahi dan mengotorinya. Oleh penduduk desa diminta agar Nabi Isa berdo’a kepada Allah agar si tukang penatu itu tidak dikembalikan lagi ke desa itu jika ia pergi. Maka berdo’alah Nabi Isa: Ya Allah! Utuslah ular kepada orang itu agar
ia tidak kembali hidup. Demikianlah maka ketika si tukang penatu berada di tempat air sedang mencuci pakaian dengan berbekal tiga potong roti. Datanglah padanya  seorang yang turun dari gunung sehabis melakukan ibadah dan berkata: adakah sesuatu makana yang engkau dapat berikan padaku atau memperlihatkannya agar aku lihat  atau cium baunya, karena aku sudah sekian lama tidak makan apa-apa, maka diberikannyalah oleh si tukang penatu sepotong roti dan diterimanya sambil sambil berkata: Hai tukang penatu! Semoga Allah mengampuni dosamu dan menyucikan hatimu, lalau diberinya lagi oleh si tukang penatu sepotong roti yang kedua dan berdo’a lagi orang itu: Semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan dating dan ketika diberinya  potong roti yang ketiga berdo’a si hamba itu: Semoga Allah membangun untukmu suatu gedung di Syurga.
Setelah selesai menyuci pakaiannya kembalilah si tukang penatu ke desa dan kembali pula penduduk desa mengadu kepada Nabi Isa yang kemudian memerintahkan untuk dipanggil menghadap. Bertanya Nabi Isa pada si tukang penatu yang dating menghadap: ceritanlah padaku kebajikan apa yang engkau perbuat hari ini? Maka diceritakanlah kisahnya air, roti dan do’a-do’a yang dipanjatksan oleh ahli ibada itu untuk dia.
Cibalah tunjukllan raselmu padaku? Ujar Nabi Isa pada tukang penatu yang segera membukanya dan ternyata di dalamnya terdapat seekor ular hitam, mulutnya terkendali dengan sebuah kendali besi. Melihat itu berkatalah Nabi Isa: hai ular hitam! Tidakkah engkau diutus kepada orang lain? Betul hai Nabi Allah, jawab si ular, tetapi datanglah seorang dari gunung meminta-minta dan diberinya oleh orang ini tiga potong roti yang dibalsnya dengan panjatan tiga do’a, pada saat mana ada malaikat berdiri yang menyambut do’a itu dengan kata “amin”, kemudian Allah mengutus malaikat yang mengendalikan aku dengan kendali besi ini. Mendengar itu semua, berkatalah Nabi Isa as. Kepada si tukang penatu: Teruskanlah pekerjaanmu, Allah telah memberi ampun padamu (Tanbihul ghafiln)

  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...