Pages

Thursday, September 6, 2012

Kisah Buah Tiga Potong Roti



Diriwayatkan  bahwa Nabi Isa as. berkunjung ke suatu desa di mana ada seorang tukang penatu yang diadukan kepada Nabi Isa, karena ia menahan air, meludahi dan mengotorinya. Oleh penduduk desa diminta agar Nabi Isa berdo’a kepada Allah agar si tukang penatu itu tidak dikembalikan lagi ke desa itu jika ia pergi. Maka berdo’alah Nabi Isa: Ya Allah! Utuslah ular kepada orang itu agar
ia tidak kembali hidup. Demikianlah maka ketika si tukang penatu berada di tempat air sedang mencuci pakaian dengan berbekal tiga potong roti. Datanglah padanya  seorang yang turun dari gunung sehabis melakukan ibadah dan berkata: adakah sesuatu makana yang engkau dapat berikan padaku atau memperlihatkannya agar aku lihat  atau cium baunya, karena aku sudah sekian lama tidak makan apa-apa, maka diberikannyalah oleh si tukang penatu sepotong roti dan diterimanya sambil sambil berkata: Hai tukang penatu! Semoga Allah mengampuni dosamu dan menyucikan hatimu, lalau diberinya lagi oleh si tukang penatu sepotong roti yang kedua dan berdo’a lagi orang itu: Semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan dating dan ketika diberinya  potong roti yang ketiga berdo’a si hamba itu: Semoga Allah membangun untukmu suatu gedung di Syurga.
Setelah selesai menyuci pakaiannya kembalilah si tukang penatu ke desa dan kembali pula penduduk desa mengadu kepada Nabi Isa yang kemudian memerintahkan untuk dipanggil menghadap. Bertanya Nabi Isa pada si tukang penatu yang dating menghadap: ceritanlah padaku kebajikan apa yang engkau perbuat hari ini? Maka diceritakanlah kisahnya air, roti dan do’a-do’a yang dipanjatksan oleh ahli ibada itu untuk dia.
Cibalah tunjukllan raselmu padaku? Ujar Nabi Isa pada tukang penatu yang segera membukanya dan ternyata di dalamnya terdapat seekor ular hitam, mulutnya terkendali dengan sebuah kendali besi. Melihat itu berkatalah Nabi Isa: hai ular hitam! Tidakkah engkau diutus kepada orang lain? Betul hai Nabi Allah, jawab si ular, tetapi datanglah seorang dari gunung meminta-minta dan diberinya oleh orang ini tiga potong roti yang dibalsnya dengan panjatan tiga do’a, pada saat mana ada malaikat berdiri yang menyambut do’a itu dengan kata “amin”, kemudian Allah mengutus malaikat yang mengendalikan aku dengan kendali besi ini. Mendengar itu semua, berkatalah Nabi Isa as. Kepada si tukang penatu: Teruskanlah pekerjaanmu, Allah telah memberi ampun padamu (Tanbihul ghafiln)

  

Friday, August 31, 2012

Kisah Wanita tua yang selalu cemas


Wanita tua yang selalu cemas

Ada seorang wanita tua bernama Mrs Wong yang tinggal di New Territories. Dia punya dua anak. Putra sulung bekerja di binatu di Kowloon. Anak bungsu menjual payung di sebuah toko di Hong Kong. Setiap kali hujan, dia khawatir anak tertua nya. "Oh! Dia akan kehilangan usahanya jika hujan, "katanya. "Bagaimana dia bisa mengeringkan bajunya?" Ketika tidak ada hujan, dia khawatir anaknya yang lebih muda. "Siapa yang akan membeli payung nya? Bagaimana dia akan mendapatkan uang cukup untuk hidup "tidak masalah apakah cuaca baik atau buruk?., Dia tidak pernah bahagia. Setelah beberapa waktu, dia menjadi sakit. Dia tidak bisa makan atau minum.
Seorang pemuda bernama Ah Foo tinggal di sebelah Ibu Wong. Dia biasnya bermain di depan rumahnya. Suatu pagi, wanita tua itu berkata kepadanya, "Ini adalah hari yang baik, tapi tidak ada hujan. Siapa yang akan membeli payung anakku yang bungsu" Ah Foo menatapnya? Tapi tidak mengatakan apa-apa. Pada sore hari, turun  hujan. Wanita tua menatap langit. Bagaimana anak tertua saya mengeringkan bajunya?" Tanya dia.
"Mrs Wong, " Ah Foo menjawab, " Tolong jangan terlalu khawatir, jika hujan, anak Anda lebih muda akan dapat menjual payung nya. Ketika hujan berhenti, anak sulung Anda akan dapat mengeringkan pakaiannya.
Ibu Wong terdiam selama beberapa saat. Dia kemudian tersenyum.
"Kau benar," katanya. "Ada sisi baik dan buruk untuk segala sesuatu tetapi kita harus selalu melihat sisi terang"

Saturday, May 19, 2012

Kisah keledai dan barang muatannya


Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal. Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut. Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai. Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.
Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Sumber : www.ceritakecil.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...